Kitab Fathul Muin dan Terjemahannya Bab Hukum Jual Beli

Kali ini kita akan membahas Kitab Fathul Muin dan terjemahannya bab hukum jual beli. Dalam dunia bisnis, hukum jual beli memainkan peran yang sangat penting. Mengetahui dan memahami aspek-aspek hukum yang terkait dengan proses jual beli adalah suatu kewajiban bagi setiap orang yang terlibat dalam transaksi perdagangan.

Postingan kitab fathul muin bab jual beli kali ini kami akan membahas berbagai hal penting antara lain adalah hukum jual beli tanpa akad atau ba'i muathah, syarat ijab qabul dan syarat-syarat jual beli dalam Islam

fathul muin bab jual beli

Fathul Muin Bab Hukum Jual Beli dalam Islam

Pengertian jual beli menurut bahasa dan istilah

Jual beli secara bahasa berarti “tukar sesuatu dengan sesuatu yang lain”, Sedangkan jual beli menurut istilah syara' adalah “menukarkan harta dgn  harta yg lain melalui tata cara tertentu.”

باب البيع

هُوَ لغةً: مُقابلةُ شيءٍ بشيءْ. وَشَرعاً: مقابلةُ مالٍ بمالٍ. على وَجهٍ مخصوص

Dalil Jual Beli Al- Baqarah 275

Dasar hukum ba'i sebelum terjadi ijma' ulama ialah ayat-ayat Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: 

وأحَلَّ الله البيعَ

Artinya''.. dan Allah menghalalkan ba'i dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah 275). 

وَالأصْلُ فيه قَبْلُ الإِجماعِ آيات  كقولهِ تعالى: {وأحَلَّ الله البيعَ} 

Hadits Tentang Jual Beli

Nabi Muhammad SAW ditanya: “Pekerjaan mana yang lebih baik?’, Beliau menjawab “Pekerjaan seseorang cowok dengan tangannya sendiri dan setiap ba'i yang baik”. Maksudnya transaksi tersebut tidak ada unsur tipu-tipu dan khianat.

وأَخبار كَخَبر: “سُئِلَ النبيُّ: أيُّ الكَسْبِ أَطْيَبُ؟ فقالَ: عَمَلُ الرَّجُلِ بيدهِ، وكلُّ بيعٍ مبرورٍ” أيْ لا غشَّ فيه ولا خيانَة

Rukun Jual Beli Dalam Islam

Dalam mazhab Syafi’i jual beli baru sah tentu ada ketentuan dan syarat-syaratnya. Nah apa saja syarat utama jual beli dalam mazhab Imam Syafi'i?

Dalam kitab fathul muin bab jual beli dijelaskan sebagai berikut:


1. Ijab dari Penjual 

Sahnya bai' dengan adanya Ijab dari penjual, meskipun sambil candaan. Ijab dalam jual beli adalah ucapan yg menunjukkan penyerahan dengan penunjukan yang jelas,“Aku jual barang ini ke kamu harga sekian..,  ini untukmu dengan harga sekian.., atau “Barang ini kumilikkan ke kamu harga sekian ….” Begitu juga dengan kata-kata: “Barang ini kujadikan untukmu harga sekian.. jika diniati jual beli.

 (يَصِح) البَيْعُ (بِإِيجَابٍ) مِنَ البَائِعِ وَلَوْ هُزْلًا وَهُوَ مَا دَلَّ عَلَى التَّمْلِيكِ دَلَالَةً ظَاهِرَةً  

(كبِعتك) ذا بكذا، أو هو لك بكذا، (وملكتك)، أو وَهَبْتُكَ (ذا بكذا)، وكذا جعلته لكَ بكذا. إن نوى به البيع

2. Qabul dari Pembeli

Sahnya ba'i dengan qabul dari si konsumen, sekalipun sambil candaan. Qabul adalah ucapan yang menunjukkan penerimaan hak milik secara jelas, Contohnya, “Aku beli barang ini dengan harga sekian, atau “Aku terima, deal, aku ambil, kumiliki barang ini harganya sekian.

(وقبولٌ) من المشتري  ولو هزلاً  وهو ما دلّ على التَّملك كذلك: (كاشْتريتُ) هذا بكذا، (وقبلتُ)، أو رَضيتُ، أو أخذتُ، أو تملَّكْتُ (هذا بكذا)

3. Ada Sighat

Adanya transaksi  seperti itu ialah agar sempurna shighat (bentuk transaksi) yang menunjukkan persyaratan atas sabda Nabi Muhammad SAW: “Ba'i bisa sah, hanyalah dengan saling rela-merelai”: sedangkan rela merupakan hal abstrak (tidak tampak). Maka, kerelaan mesti diukur dengan bukti berupa ucapan.

وَذَلِكَ لِتَتِمَّ الصِّيغَةُ، الدَّالُّ عَلَى اشْتِرَاطِهَا قَوْلُهُ: "إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ"، وَالرِّضَا خَفِيٌّ، فَاعْتُبَرْ مَا يُدَلُّ عَلَيْهِ مِنَ اللَّفْظِ،

Hukum Jual Beli Tanpa Akad Dalam Islam

Jual beli mu'athah yaitu penjual dan pembeli sudah sepakat atas barang dan harga, tetapi tidak ada sighat aqad ijab kabul diantara keduanya

Aqad merupakan suatu kontrak kesepakatan disetiap ber muamalah. Karena jual beli merupakan kegiatan muamalah, maka aqad adalah hal peling penting. Lalu, bagaimana hukum jual beli jika semua syarat tidak terpenuhi?Dalam fathul muin bab jual beli ini dijelaskan sebagai berikut:

Jual beli mu’athah(tanpa ucapan ijab qabul) dianggap tidak sah, Akan tetapi Imam Nawawi memilih sah ba'i tanpa akad pada barang-barang yang kebiasaan dijalankan dengan cara mu’athah(tanpa akad). Contohnya beli roti, daging, tidak dengan barang kayak kenderaan dan tanah 

فَلَا يَنْعَقِدُ بِالْمُعَاطَاةِ، لَكِنِ اخْتِيرَ الْإِنْعَقَادُ بِكُلِّ مَا يُتَعَارَفُ الْبَيْعُ بِهِ فِيهِ: كَالْخُبْزِ، وَاللَّحْمِ، دُونَ نَحْوِ الدَّوَاب، والأراضي

Karenanya, menurut pendapat pertama: Barang yang telah diterima dengan cara Mu’athah (berkosekuensi) dalam hukum dunia sama kayak barang yang diterima dari transaksi bai fasid, sedangkan di akhirat sudah tidak ada tuntutannya terhadap barang yang diterima dengan sebab cara Mu’athah tersebut(karena penjual dan konsumen sudah saling rela, tetapi yang dituntut nanti adalah pembiasaan diri terhadap yang tidak dibolehkan secara syariat).

فَعَلَى الأَوَّلِ: المَقْبُوضُ بِهَا كَالمَقْبُوضِ بِالبَيْعِ الفَاسِدِ، أَيْ فِي أَحْكَامِ الدُنْيَا. أَمَّا فِي الآخِرَةِ فَلَا مُطَالَبَةَ بِهَا.

Perbedaan ulama tentang Ba’i Mu’athah juga berlaku pada transaksi lainnya(sewa dll). Sekilas tentang bai mu’athah ialah kedua belah pihak sudah saling sepakat(serah terima),  mengenai harga dan barangnya, sekalipun tidak didapati ucapan ijab qabul dari salah satunya.

وَيَجْرِي خِلَافُهَا فِي سَائِرِ العُقُودِ. وَصُورَتُهَا: أَنْ يَتَّفِقَا عَلَى ثَمَنٍ وَمُثَمَّنٍ وَإِنْ لَمْ يُوجَدْ لَفْظُ مِنْ وَاحِدٍ

Jikalau orang ketiga berkata kepada si penjual, “Ente jual?” lalu si penjual jawab “Yes!” atau “bener'”: dan ia berkata lagi ke si pembeli, “Kamu beli?” lalu diawabnya “Bener!” maka dianggap sah ba'i ini

وَلَوْ قَالَ مُتَوَسِّطٌ لِلْبَائِعِ: بِعْتَ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، أَوْ إِيَ، وَقَالَ لِلْمُشْتَرِيِ، إِشْتَرَيْتَ؟ فَقَالَ: نَعَمْ. صَحَّ.

Juga sah dengan mengucapkan "ya" dari keduanya, sebagai jawaban dari ucapan konsumen "Aku beli y?" dan penjual "Aku jual y?."(dijawab ya)

وَيَصِحُ أَيْضًا بِنَعَمْ مِنْهُمَا، لِجَوَابِ قَوْلِ الْمُشْتَرِي بِعْتُ، وَالْبَائِعُ اِشْتَرَيْتُ.

Tidak sah ba'i jika saat ijab dan qabul menyertakan huruf istiqbal (waktu akan datang). Misal: akan ku jual buatmu. Syaikhuna (ibnu Hajar) berkata: Ditolerir adalah kekeliruan orang awam semisal mem-fatah-kan TA mutakallim (Contoh harusnya penjual berkata بِعْتُ=aku jual, ini dibaca fathah بِعْتَ = engkau  jual, begitu juga si pembeli)

وَلَوْ قَرِنَ بِالْإِيجَابِ أَوْ الْقَبُولِ حَرْفُ اِسْتِقْبَالٍ كَأَبِيعُك لَمْ يَصِحْ.

قَالَ شَيْخُنَا: وَيَظْهَرُ أَنَّهُ يُغْتَفَرُ مِنَ الْعَامِّيِّ نَحْوُ فَتْحِ تَاءِ الْمُتَكَلِّمِ

Hal-hal yang Diperlukan Dalam Jual beli

Ada beberapa hal yang harus ada dalam jual beli yaitu ijab qabul atau serah terima. Ijab kabul jual beli memiliki syarat-syaratnya agar transaksi tersebut bisa sah.

Nah, apa saja syarat ijab qabul jual beli dalam Islam? dalam kitab fathul muin dan terjemahannya disebutkan beberapa syarat ijab qobul diantaranya:

  • Syarat sah ijab qabul yang pertama adalah saat terjadi akad tidak ada pemisah dengan diam dalam waktu yang lama. Kecuali sebentar saja.

وَشَرْطُ صِحَّةِ الْإِيجَابِ وَالْقَبُولِ كَوْنُهُمَا (بِلَا فَصْلٍ) بِسُكُوتٍ طَوِيلٍ يَقَعُ بَيْنَهُمَا بِخِلَافِ الْيَسِيرِ،

  • Ijab qabul tidak diselingi dengan lafadz lain selain dari akad, meskipun hanya sedikit. Yaitu ucapan yang enggak ada kaitannya sama tentutan akad(transaksi), pula bukan untuk kemaslahatan akad.

(وَ) لَا (تَخَلُّلَ لَفْظٍ) وَإِنْ قَلَّ (أَجْنَبِيٌّ) عَنِ الْعَقْدِ بِأَنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ مُقْتَضَاهُ وَلَا مِنْ مَصَالِحِه

  • Syarat ijab qabul selanjutnya adalah keduanya mempunyai makna yang bersesuaian, tidak mesti sesuai dalam lafadz nya. Oleh karena itu, jika penjual berkata, “Aku jual barang ini ke kamu harganya seribu”. Lalu si pembeli menambah(misal, aku beli dengan harga 2000) atau mengurangi harga di atas. atau sipenjual menjual harga cash, lalu pembeli dalam qabulnya mengkredit atau sebaliknya, Atau penjual mengatakan, “dalam waktu tempo 1 bulan”, lalu pembeli memperpanjang waktu tersebut, maka jual beli ini hukumnya tidak sah, dikarenakan ada perbedaan ijab qabul.

. وَيُشْتَرَطُ أَيْضًا أَنْ يَتَوَافَقَا مَعَنًى لَا لَفْظًا فَلَوْ قَالَ بَعَتُكَ بِأَلْفٍ، فَزَادَ أَوْ نَقَصَ أَوْ بِأَلْفِ حَالَةً فَأَجَّلَ، أَوْ عَكْسُهُ، أَوْ مُؤَجَّلَةً بِشَهْرٍ، فَزَادَ، لَمْ يَصِحَّ، لِلْمُخَالَفَةِ.

  • Syarat Ijab qabul tidak boleh digantungkan. Karena itu, jika digantungkan dengan sesuatu, maka hukumnya tidak sah. Misalnya: Jika bapakku sudah meninggal, maka barang ini kujual kepadamu. Juga tidak boleh dibatasi waktu, contoh, “Kujual barang ini kepadamu selama satu bulan.”

 (وَ) بِلَا (تَعْلِيقٍ) فَلَا يَصِحُّ مَعَهُ كِإِنْ مَاتَ أَبِي فَقَدْ بِعْتُكَ هَذَا، (وَ) لَا (تَأْقِيتٍ) كَبعتُكَ هَذَا شَهْرًا


Demikianlah uraian kitab fathul muin dan terjemahannya bab jual beli kali ini, Semoga bermanfaat

 

 

Posting Komentar untuk "Kitab Fathul Muin dan Terjemahannya Bab Hukum Jual Beli"